Rekomendasi Kuliner – Ajwad Resto lahir dari perpaduan dakwah, pengalaman hidup, dan kecintaan terhadap kuliner Timur Tengah. Sosok di balik restoran ini adalah Ustadz Khalid Basalamah, seorang pendakwah populer yang memiliki jutaan pengikut di berbagai platform digital. Di tengah kesibukannya menyampaikan kajian Islam, ia juga menumbuhkan semangat kewirausahaan melalui berbagai usaha di bawah naungan Gazwah Enterprise. Restoran Timur Tengah yang ia rintis bukan sekadar tempat makan, tetapi juga ruang untuk menghadirkan pengalaman budaya, cita rasa, dan nilai spiritual dalam satu tempat. Kisah perjalanan Ajwad Resto menunjukkan bahwa passion dapat berkembang menjadi peluang bisnis yang kuat ketika seseorang berani menggabungkan pengalaman pribadi, nilai hidup, dan strategi usaha yang tepat.
Awal Mula Kecintaan Khalid Basalamah pada Dunia Kuliner

Perjalanan bisnis kuliner Khalid Basalamah berawal dari masa remaja ketika ia tinggal di Kairo, Mesir. Saat itu ia masih duduk di bangku sekolah menengah dan harus hidup mandiri jauh dari orang tua. Kondisi tersebut mendorongnya belajar memasak secara otodidak agar dapat menikmati makanan yang sesuai selera. Ia bereksperimen dengan berbagai bahan dan bumbu yang mudah ditemukan di lingkungan tempat tinggalnya. Aktivitas memasak tidak hanya memenuhi kebutuhan sehari hari, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap dunia kuliner. Ia sering berdiskusi dengan teman teman sesama pelajar Indonesia tentang cara mengolah makanan agar rasanya lebih nikmat. Kebiasaan ini melatih kreativitas serta kepekaan terhadap cita rasa. Walaupun kemudian ia memilih fokus mendalami ilmu agama, pengalaman memasak tersebut tetap tersimpan sebagai keterampilan berharga yang suatu hari membuka jalan menuju dunia bisnis kuliner.
Ajwad Resto Lahir dari Perpaduan Pengalaman dan Identitas Budaya

Ajwad Resto hadir sebagai wujud nyata dari kecintaan terhadap masakan Timur Tengah yang telah tertanam sejak masa muda. Restoran ini mulai beroperasi pada tahun 2011 dan menawarkan berbagai hidangan khas seperti nasi kabsah, kebab laham, serta musakka. Pilihan menu tersebut mencerminkan latar belakang keluarga Khalid Basalamah yang memiliki garis keturunan Yaman serta pengalaman hidup di Mesir. Ajwad Resto berdiri di kawasan Condet Jakarta Timur dan langsung menarik perhatian pecinta kuliner Timur Tengah. Interior restoran menampilkan nuansa khas dengan warna merah bata, emas, putih gading, dan cokelat tua sehingga pengunjung dapat merasakan atmosfer berbeda sejak pertama kali masuk. Tempat makan ini menyediakan beberapa area bersantap seperti ruang lesehan, meja reguler, serta ruangan VIP. Konsep tersebut membuat restoran mampu melayani berbagai segmen pelanggan mulai dari keluarga hingga komunitas yang ingin menikmati hidangan Timur Tengah dengan suasana yang nyaman.
Nilai Spiritual Menjadi Fondasi Budaya Kerja Restoran

Khalid Basalamah menanamkan nilai spiritual yang kuat dalam pengelolaan bisnisnya. Ia memandang usaha kuliner bukan hanya sarana mencari keuntungan, tetapi juga media untuk menjalankan prinsip kehidupan yang selaras dengan ajaran Islam. Setiap waktu salat tiba, seluruh aktivitas pelayanan dihentikan sementara selama sekitar lima belas menit. Para staf kemudian melaksanakan salat berjamaah sebelum kembali melanjutkan pekerjaan. Kebijakan tersebut membangun budaya kerja yang disiplin sekaligus menumbuhkan kesadaran spiritual di lingkungan kerja. Banyak pengunjung justru merasa terinspirasi ketika melihat praktik tersebut secara langsung. Mereka menilai restoran tidak hanya menawarkan makanan lezat, tetapi juga menyampaikan pesan nilai kehidupan. Pendekatan ini menciptakan identitas unik yang membedakan bisnis tersebut dari banyak restoran lain. Kombinasi antara pelayanan profesional dan nilai religius memberikan pengalaman yang berbeda bagi pelanggan yang datang.
Strategi Bisnis yang Membuat Restoran Tetap Bertahan
Perjalanan bisnis tidak selalu berjalan mulus. Ajwad Resto pernah menghadapi tantangan serius ketika biaya operasional meningkat dan omzet tidak seimbang. Situasi tersebut bahkan sempat membuat restoran berhenti beroperasi selama beberapa waktu. Namun Khalid Basalamah tidak menyerah. Ia mencari solusi dengan menggandeng mitra usaha yang memiliki visi serupa. Kerja sama tersebut membuka jalan bagi relokasi restoran ke kawasan Condet yang kemudian menjadi pusat aktivitas bisnisnya hingga sekarang. Selain itu ia juga menerapkan beberapa strategi penting untuk memperkuat posisi restoran di pasar. Salah satunya melalui pengolahan daging kambing dengan teknik oven sehingga aroma prengus berkurang dan tekstur daging menjadi lebih lembut. Ia juga memadukan bumbu Timur Tengah dengan sentuhan rasa Nusantara agar lebih mudah diterima lidah masyarakat Indonesia. Pendekatan kreatif ini membuat menu terasa unik sekaligus akrab bagi banyak pelanggan.
Diversifikasi Usaha dan Pengembangan Produk
Langkah pengembangan bisnis tidak berhenti pada layanan restoran. Khalid Basalamah memperluas konsep usaha dengan menghadirkan Ajwad Store yang berada dalam satu area dengan restoran. Toko tersebut menjual berbagai produk khas Timur Tengah seperti parfum, buku, makanan beku, dan berbagai souvenir. Strategi ini mendorong pengunjung untuk mendapatkan pengalaman yang lebih lengkap dalam satu kunjungan. Mereka dapat menikmati hidangan Timur Tengah sekaligus berbelanja produk yang berkaitan dengan budaya tersebut. Pendekatan diversifikasi juga membantu meningkatkan potensi pendapatan usaha. Selain itu kehadiran berbagai unit bisnis di bawah Gazwah Enterprise memperkuat ekosistem usaha yang saling mendukung. Melalui langkah ini Khalid Basalamah menunjukkan bahwa seorang pendakwah juga dapat membangun bisnis modern tanpa meninggalkan nilai nilai yang ia yakini. Kisah Ajwad Resto akhirnya menjadi contoh menarik tentang bagaimana passion, pengalaman hidup, dan strategi usaha dapat bersatu menciptakan bisnis yang inspiratif.
